tenaga guru untuk memberikan pelayanan pendidikan ini harus memenuhi persyaratan tertentu untuk menjamin bahwa pelayanan yang dituntut itu sesuai dengan harapan pemakai. Persyaratan ini begitu penting karena penyelenggara pendidikan menuntut keahlian profesional yang tidak setiap orang dapat memenuhi persyaratan tersebut.
Penyediaan tenaga guru (teacher
supply) adalah upaya profesional lembaga pendidikan guru untuk memenuhi
tuntutan akan tenaga guru dari lembaga pemakai jasa guru. Untuk dapat memenuhi
persyaratan tuntutan dari lembaga pemakai, lembaga pendidikan guru sebagai
penyedia atau prosedur harus memperlihatkan persyaratan profesional yang
diminta oleh pemakai. Karena itu upaya pemenuhan inipun perlu dilaksanakan
secara profesioanl pula hingga produk yang dihasilkan dapat memenuhi tuntutan
lapangan.
Berdasarkan batasan konsep demand
dan supply seperti diutarakan di
atas, terlihat adanya berbagai faktor esensial di dalam konsep demand dan supply itu. Pada komponen demand
unsur-unsur penting yang perlu diperhatikan adalah guru untuk bidang
apakah, untuk jenis dan jenjang pendidikan yang mana, dengan kualifikasi apa,
tugas-tugas apa saja yang harus dilaksanakan, dan juga jaminan-jaminan apakah
yang dapat disediakan sebagai imbalan pelayanan yang diberikan oleh guru.
Pada komponen supply,
unsur-unsur esensial yang perlu mendapat perhatian adalah: guru apa dan dengan
kualifikasi tingkat mana yang perlu disiapkan, apakah stock guru cukup
tersedia, program yang bagaimanakah yang dapat memenuhi persyaratan kualitatif
ketenagaan guru yang diperlukan, berapa jumlah guru yang perlu disiapkan, sikap
profesional guru yang bagaimanakah yang perlu dibina untuk calon guru tersebut.
Uraian di atas menunjukkan bahwa hukum demand
dan supply dalam bidang ekonomi
tampaknya juga berlaku untuk demand
dan supply tenaga guru.
Keterkaitan antara demand
dan supply disajikan secara
komprehensif pada gambar atau diagam di bawah ini.
![]() |
|||
|
|||
Demand dan supply yang sempurna adalah apabila supply memenuhi keseluruhan persyaratan demand baik secara kuantitatif maupun
kualitatif. Keseimbangan yang seperti ini dalam hukum demand dan supply disebut
“perfect equilibrium” (Gaffar, 1980). Keadaan perfect equilibrium ini amat sulit dicapai karena terdapat berbagai
faktor yang sulit terdapat berbagai factor yang sulit dikendalikan baik pada
komponen demand maupun pada komponen supply.
Analisis demand dan supply yang lebih mendalam amat penting
bagi perencana karena dengan mengkaji lebih terperinci terhadap kedua komponen
ini dapat mengungkap berbagai faktor dinamis yang berpengauh terhadap demand dan supply. Demand dan supply adalah dinamis karena
faktor-faktor internal dan eksternal yang secara dominan mempengaruhi itu terus
berubah dan berkembang.
Faktor-faktor yang terus menerus mempengaruhi demand adalah kurikulum yang
diberlakukan di sekolah sebagai pemakai guru. Kurikulum sekolah memang harus
dinamis dan karenanya terus tumbuh mempengaruhi kompetensi guru yang
diperlukan. Pertumbuhan enrollment
juga berpengaruh terhadap aspek kuantitaif demand, demikian pula beban
mengajar, dan beban studi murid. Standar mutu pendidikan di sekolah juga selalu
hidup dan berkembang pula. Karakteristik proses pendidikan pada tingkat sekolah
inilah yang menyebabkan terjadinya dinamika dalam demand karena guru itu
sendiri harus selalu mampu merespon terhadap segala tuntutan yang berkembang.
Faktor-faktor yang mempengaruhi supplypun juga berubah dan
berkembang terus. Program pendidikan guru juga terus berkembang yang tidak
selalu merujuk pada karakteristik demand di sekolah, tapi merujuk kepada
pertumbuhan masyarakat luas, karena guru itu merupakan konsep yang terbuka.
Kurikulum pendidikan guru juga terus berkembang mengikuti irama perkembangan
ilmu dan teknologi.
Nilai ekonomi lulusan pendidikan guru pada pasaran kerja yang
relative rendah bila dibandingkan dengan profesi lain, mengurangi jumlah stock
calon guru. Minat, bakat, dan perhatian setiap calon guru yang memasuki
pendidikan guru juga bervariasi, dengan demikian distribusi enrollment pada
lembaga pendidikan guru sulit dikendalikan untuk disesuaikan dengan trend
kebutuhan pada lembaga pemakai. Karena itu dapat dimengerti bilamana guru untuk
bidang studi tertentu berlebih sedang sedang untuk bidang lainnya amat sulit
diperoleh. Kemampuan individual calon guru tidak sama, karena itu kualitas
lulusan juga tidak merata. Seluruh gambaran ini memberikan uraian bahwa discrepancy antara demand dan supply
sulit dihindari.
1.
Menghitung
Kebutuhan Guru
Menghitung kebutuhan guru pada suatu lembaga atau sistem
memerlukan data dasar yang mencakup:
a.
Enrollment sekolah
b.
Jumlah jam perminggu yang diterima murid seluruh mata
pelajaran atau mata pelajaran tertentu.
c.
Beban mengajar penuh guru perminggu
d.
Besar kelas yang dianggap efektif untuk menerima suatu
mata pelajaran
e.
Jumlah guru yang ada
f.
Jumlah guru yang akan pensiun atau berhenti atau karena
sesuatu hal akan meninggalkan jabatan keguruan.
g.
Jenis sekolah dan jenjang sekolah yang memerlukan guru.
Menghitung kebutuhan total guru untuk suatu jenis sekolah atau
tingkat sekolah tertentu tidaklah sulit asalkan data dasar yang diperlukan di
atas tersedia. Formula umum menghitung kebutuhan guru adalah:
![]() |
Formula di atas
dapat ditulis dengan notasi seperti berikut:
Formula di atas
dapat dipergunakan untuk menghitung jumlah kebutuhan guru secara umum atau
untuk tiap bidang studi. Contoh:
Kebutuhan guru
untuk suatu bidang studi tertentu dapat dihitung dengan contoh berikut.
2. Menghitung Kekurangan Guru
Perhitungan kebutuhan guru dengan menggunakan formula sederhana
telah diuraikan terdahulu menunjukkan adanya kemungkinan untuk merubah variabel
tertentu bilamana resources untuk
pengadaan guru tidak mungkin disediakan.
Dalam keadaan terbatas resources
ini umpamanya besar kelas tidak 40 dan tidak diperbesar menjadi 50, dengan
demikian jumlah guru yang diperlukan sudah dapat ditekan tanpa berpengaruh
terhadap kualitas pendidikan.
Beban mengajar guru yang sedianya ditentukan 24 jam perminggu,
tapi karena keterbatasan resources
beban mengajar dapat ditambah dan karenanya jumlah guru dapat ditekan. Pilihan
seperti ini dapat saja diambil oleh planners bilamana resources memang dalam
keadaan yang amat terbatas. Pilihan inipun dapat pula dipertimbangkan pada
waktu menghitung kekurangan guru.
Menghitung kekurangan guru atau teacher shortage adalah langkah lanjutan dari menghitung kebutuhan
total guru. Langkahnya adalah:
a.
Ambilah data tentang jumlah guru yang ada berdasarkan
klasifikasi jenis kelamin, lama bekerja sebagai guru, usia, kualifikasi atau
ijazah tertinggi yang diperoleh, beban mengajar dan bidang spesialisasi.
Kesemua data ini penting untuk menentukan kekurangan guru dalam arti full time, fully qualified.
b.
Identifikasi jumlah guru yang akan pensiun pada tahun
dalam periode perencanaan yang telah ditentukan.
c.
Identifikasi jumlah guru yang karena sesuatu hal akan
meninggalkan tempat bekerja sekarang (karena dipindahkan, diberikan kesempatan
untuk studi dan seterusnya).
d.
Identifikasi apakah ada guru yang belum fully qualified.
e.
Identifikasi jumlah guru yang beban mengajarnya tidak
penuh seperti guru part time atau
honorer.
f.
Kembangkan standar atau rambu-rambu untuk menentukan
kekurangan guru, yang mencakup: apakah besar kelas tetap berdasarkan kebijakan
yang berlaku saat itu; apakah beban mengajar guru akan berubah; apakah besar
kelas akan bertambah; apakah jumlah beban studi murid akan dikurangi; apakah
guru yang kualifikasinya belum memenuhi standar akan diberikan kesempatan untuk
meneruskan studi.
Berdasarkan
langkah-langkah di atas kemudian komputasi dilakukan dengan menggunakan formula
kekurangan guru sebagai berikut:
|
|
KG = kekurangan guru
KGT = kebutuhan guru total
GA = guru yang ada
GP = guru yang akan pensiun
GK = guru yang karena sesuatu alasan akan
keluar
GS = guru yang karena belum fully qualified
akan meneruskan studi
Contoh:
|
Bila guru yang ada setelah dikurangi dengan berbagai kelompok
guru yang karena macam-macam alasan tidak dapat bertugas lagi pada sekolah atau
sistem itu lebih besar dari kebutuhan total guru, maka terjadilah kelebihan
guru. Bila ini terjadi, maka artinya tidak ada demand terhadap guru.
3.
Proyeksi
Kebutuhan Guru
Proyeksi kebutuhan guru untuk tiap tahun selama periode
perencanaan tertentu harus seiring dengan proyeksi enrollment, disertai dengan
asumsi-asumsi tentang beban studi murid, beban mengajar guru, besar kelas, dan
estimasi jumlah guru yang akan pensiun, pindah atau keluar atau meneruskan
studi pada tahun-tahun dalam periode perencanaan yang telah ditentukan itu.
Formula yang digunakan masih tetap formula yang dipergunakan dalam menghitung
kebutuhan dan kekurangan guru seperti telah diuraikan dengan cukup terperinci
pada bagian terdahulu. Proyeksi ini didasarkan atas trend dan data dasar guru
beberapa tahun sebelumnya.
4.
Penyediaan Guru
(Teacher Supply)
Perhitungan supply guru berorientasikan pada pemenuhan demand
terhadap guru yang merupakan target yang harus secara optimal dipenuhi. Lembaga
yang diberi tugas untuk mempersiapkan tenaga guru di Indonesia adalah Lembaga
Pendidikan Tenaga Keguruan (LPTK).
Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah mengkaji atau
mengadakan evaluasi terhadap institusional
capability lembaga pendidikan yang diberi tugas dan tanggung jawab untuk
mempersiapkan tenaga guru. Hasil evaluasi itu dapat dipergunakan sebagai dasar
untuk mengukur sejauh manakah lembaga tersebut mempunyai kemampuan untuk
memenuhi tuntutan tenaga guru pada periode perencanaan yang telah ditentukan
itu. Evaluasi perlu dipusatkan pada hal-hal berikut:
a.
Stock calon guru atau enrollment mahasiswa calon guru
pada lembaga pendidikan guru;
b.
Lulusan tiap tahun untuk selama enam tahun yang lalu
untuk melihat kecenderungan produksi lembaga itu;
c.
Jenis dan jenjang program yang tersedia;
d.
Kemampuan produksi tiap produksi tiap program yang ada
itu;
e.
Resources yang tersedia untuk memungkinkan pengembangan
pada tahun-tahun berikutnya.
Analisis kuantitatif enrollment sekolah pendidikan guru tidak
berbeda dengan analisis enrollment pada sekolah-sekolah umum yaitu dengan
menggunakan enrollment flow model atau dengan menggunakan cohort survival model Chesswas, atau dengan menggunakan komputer enrollment flow model Davis.
Hasil evaluasi dan analisis institusional kemampuan sekolah
pendiidkan guru adalah dasar untuk menentukan pengembangan lembaga tersebut
untuk memenuhi kebutuhan tenaga guru pada sekolah-sekolah, pemakai jasa guru.
Perhitungan kenaikan rata-rata pertahun, pengulang per tahun dan dropouts pertahun,
dapat dijadikan pegangan sebagai dasar proyeksi penyediaan guru pada beberapa
tahun mendatang. Karena lulusan sekolah pendidikan guru ini dikaitkan dengan
tuntutan guru di lapangan, maka proyeksi supply guru menggunakan target setting approach, yaitu dengan
dimulai dari beberapa jumlah lulusan yang diperlukan untuk memenuhi secara
optimal tuntutan guru di lapangan. Hal ini dapat mengambil jumlah kebutuhan
guru harus sama dengan jumlah lulusan yang akan terjun kepada profesi keguruan
dengan memperhitungkan jumlah lulusan yang tidak terjun kepada profesi
keguruan. Perbandingan antara trend lulusan sekolah pendidikan guru pada enam
tahun terakhir dan trend kebutuhan guru pada kurun waktu yang sama dapat
memberikan gambaran untuk menentukan langkah selanjutnya.



0 komentar:
Posting Komentar